Sudah kualami perih karena kehilangan...
Sudah kureguk kecewa karena ditinggalkan...
Sudah kudidera luka karena dikhianati...
Semuanya belum seberapa...
Hanya satu derita yang paling menyiksa
Jatuh cinta,
Tapi tak bisa memiliki...
Pernah membaca puisi di atas? Itu adalah salah satu puisi buatan Andrei Aksana. Seorang penulis novel terkenal di Indonesia yang sudah menerbitkan banyak karyanya seperti Abadilah Cinta, Janda - Janda Kosmopolitan, Lelaki Terindah dan masih banyak lagi. Lajang kelahiran Jakarta, 19 Januari 1977 ini pertama kali memulai debutnya sebagai penulis novel di tahun 1992, dengan meluncurkan Mengukir Mimpi Terlalu Pagi. Ia adalah cucu pujangga Sanoesi Pane dan Armijn Pane, dan merupakan anak kedua novelis Nina Pane dan Jopie Boediarto. Kakek buyutnya adalah Sultan Pangurabaan Pane, pendiri surat kabar Surya di Tapanuli, penulis roman Tolbok Haleon, dan pengelola kelompok musik tradisional uning-ungingan. Wajar saja darah seni mengalir kental dalam tubuhnya. Namun ketika dianggap jadi penulis hanya bermodalkan faktor keturunan, ia berkomentar, "Buat saya, bakat hanya 1%, selebihnya adalah kerja keras dan keringat."
Buat pembaca yang senang menulis, agaknya kita perlu belajar dari seorang Andrei Aksana agar berani berusaha lagi dan lagi untuk menghasilkan karya - karya. Terlepas dari keturunan atau bakat, sebaiknya kita mencoba untuk melakukannya daripada tidak sama sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar